Jumat, 22 Februari 2008

Click gambar untuk info lebih detail

Meilfin Roza's eye balls were unwince when he saw a 2 m high nepenthes carrying 22 large pitchers. 'It is for me,' Melfin said. However, it was not easy for the man who is addicted to monkey jar since he was in college to get the idol. There was also a Malaysian competitor who was also enchanted by Nepenthes bicalcarata. After bargaining, the shipping service businessman got the heart devotee by spending Rp12-million.

It was for a reason why Meilfin was enamored by Nepenthes bicalcarata. The one which was found in Sanggau, West Kalimantan, has 22 leaves sized 65 cm x 12 cm. Each leaf carrying giant pitchers 25 cm tall. The pitcher diameter is up to 16 cm, equal to a glass circle. The nepenthes pitchers from lowland which are embelished by yellow, violet, and red colours is more interesting.

The nepenthes which has 2 canines behind the pitcher lid is actually not the biggest. There is nepenthes rajah which pitcher can reach 35 cm high and 14 cm diameter. The borneo endemic ketakung is sensible to be crowned as the biggest pitcher nepenthes. In addition, it has a pretty performance. The pitcher lip is big and curved as if a red shell. Its pitcher lid is big as if a dome. The inner part of the pitcher is yellow up to purple, the outer part is dark red or purple. It is obvious that highland entuyut which is also adaptive to 0-2.000 m above sea level elevation becomes the collectors' target.

Many varieties

When visiting MA Suska's nursery in Ciawi, Bogor, Trubus saw giant Nepenthes rafflesiana. When the length was measured it reached 30 cm long. The pitcher looks more dominant than the leaves which were only 16 cm.

In dr Purbo Djojokusumo's nursery, Ciawi, there is N. reinwardtiana with giant pitchers. The pitchers length is over a hand span. The shape is slender because the pitcher width is less than 3 cm. With 2 dots resembling eye ball on the inner part of the pitcher, the lowland kantong beruk is easily recognized. Nepenthes northiana on the garden is even much bigger. The 40 cm long and the 12 cm diameter pitchers mesmerize every ones' eyes.

Seeming to be unwanted to be inferior, N. truncata, N. adrianii, and N. jacqueline also perform jumbo pitchers. From Trubus track output, there are at least 8 giant pitcher nephenteses. They charm the kantong beruk devotees. (Lastioro Anmi Tambunan)



N. bicalcarata
Origin/ habitat Kalimantan, mossy swamp forest in Brunei, and Serawak
Height Creeping up to 20 m
pitcher length ? 25 cm
pitcher width ? 16 cm, the lower pitchers become small and narrow
pitcher lid heart shape 2,5-3,5 cm long and 4-5 cm wide
Leaves size 20-65 cm long and 6-12 cm wide
Distinctive feature Has 2 long thorns which sticks out of the lid base and has giant nectar gland
N. rajah
Origin/ habitat Kinabalu mountain, Kalimantan. Grow on the highland 1.650-2.700 m above sea level elevation
pitcher length 20-35 cm
pitcher width 11-14 cm
pitcher lid round egg shape 15-22 cm long and 11-16 cm wide
Leaves size 25-50 cm long and 10-15 cm wide
Distinctive feature The pitcher lid is wider than the red and purple pitcher lip
N. adrianii
Origin/ Habitat Java endemic and grow on the highland over 1.100 m above sea level elevation
pitcher length 20 cm
pitcher width 7 cm
pitcher lid 8 cm long and 3 cm wide
Distinctive feature One of the living epifit. Wide lip
N. truncata
Origin/ Habitat Mindanao island endemic, Philippine on 0-2.000 above the sea level height
pitcher length 30 cm
pitcher width 6 cm
pitcher lid Triangle shape 5 cm long and 2,5 cm wide
Distinctive feature Yield pitchers as if a short and thick monster. The lower pitchers cylindric shape with a small lid. A heart shape leaves.
N. reinwardtiana
Origin/ habitat Spreading in Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan, Malaysian peninsula (Pahang), Serawak, and Singapore. Grow on the lowland, 0-2.100 m above sea level elevation
Height ? 20 cm
pitcher length 5-15 cm
pitcher width 1/2 - 1/3 of pitcher long, wide and narrowing 1-2 cm upward
Leaves size 6-20 cm long and 2-4 cm wide
Distinctive feature Having eyes (spots) on the inner side of the pitcher, bright green pitcher
N. rafflesiana
Origin/ Habitat Found in Sumatera, Kalimantan, Peninsula Malaysia, and Singapore. Grow on 0-1.000 m above sea level elevation area.
Height Climbing up to 4 m
pitcher length 10-25 cm
pitcher width 3-7 cm
pitcher lip width 2,5 cm
pitcher lid Round egg shape with 6-11 cm long and 4-8 cm wide
Leaves size 16 cm long and 3-6 cm wide
Distinctive feature Varied colours from bright green and cream embellished by red or clear purple spots
N. northiana
Origin/ Habitat Borneo and Malaysia on the lowland, 0-500 m above sea level
pitcher size Funnel shaped with 40 cm long and 12 cm diameter
Leaves size 15-25 cm long and 3-10 cm wide
pitcher lid tapering shaped sized 2-10 cm. Sharp end and round bottom
Distinctive feature The pitcher colour is the combination of green and white with bright red spots
N. jacqueline
Origin/ Habitat Sumatera and grow on the highland, 1.700-2.200 m above sea level
pitcher length 15 cm
Width 10 cm
Distinctive feature Round shaped, and compact resembling a short water jar

Trubus 441, 22-23

Bakteri Jadi Pestisida Aman

Ini politik devide et impera yang dilakukan Ir Euis Suryaningsih MS. Periset Balai Penelitian Tanaman Sayuran itu mengadu domba makhluk mini seperti Bacillus subtilis dengan bakteri Colletotrichum gloeosporoides penyebab penyakit antraknosa pada cabai. Mereka bertarung dan Bacillus subtilis selalu menang.

Apa rahasia kemenangan itu? Anggota famili Bacillaceae itu mempunyai senyawa toksin bernama bacillin. Toksin itu tokcer menghambat perkembangan bakteri patogen. Menurut Charles L. Baugh, periset Merck Institute for Theurapeutic Research, Pennsylvania, Amerika Serikat, bacillin juga mampu mendongkrak resistensi tanaman. Dampaknya sistem kekebalan tanaman pun meningkat.

Euis, alumnus Biologi Universitas Padjadjaran Bandung, meriset bakteri sebagai pestisida selama hampir 2 tahun sejak awal 2006. Mula-mula Euis mengambil isolat bakteri Bacillus subtilis dari daun cabai muda. 'Sebaiknya bakteri diambil dari tanaman yang akan diberi perlakuan,' katanya. Tujuannya agar tidak terjadi resistensi. Sistem metabolisme daun muda masih sangat aktif, jadi lebih banyak bakteri yang ditemukan. 'Kemungkinan dia juga memperbanyak diri di sana,' katanya.

Ambil spora

Setelah memperoleh isolat bakteri, Euis mengupayakan bakteri berkembang biak. Caranya dengan menciptakan suasana lingkungan kering. Kelembapan ruangan diatur sampai titik terendah sehingga bakteri menghasilkan spora. Bila lingkungan tidak menguntungkan, beberapa jenis bakteri termasuk bacillus akan mempertahan diri dengan membentuk spora. 'Spora itulah yang saya panen,' kata Euis.

Spora itu awet selama 2 tahun. Namun, bila disimpan di lemari pendingin, daya tahan spora lebih lama, mencapai puluhan tahun. Dalam bentuk spora, bakteri akan dorman. Spora itu selanjutnya digunakan oleh Euis untuk memperbanyak jumlah bakteri.

Untuk merangsang bakteri memperbanyak diri lagi, cukup meningkatkan kelembapan udara ruangan tempat isolasi bakteri, sampai lebih dari 90%. Saat itu, kondisi lingkungan sesuai dengan kebutuhan bakteri. Masa dormansi pun usai. Spora tidak terbentuk lagi dan bakteri pun bisa kembali memperbanyak diri. Nah, saat memperbanyak diri itulah bakteri mengeluarkan senyawa toksin. Senyawa itu dikeluarkan oleh hampir seluruh bagian tubuhnya dan akan digunakan untuk melawan bakteri patogen pada tanaman.

Caranya dengan mengambil isolasi bakteri yang sudah dibuat serbuk. Selanjutnya dilarutkan dalam air, dengan dosis 0,1%. Larutan itu disemprotkan pada tanaman seminggu sekali. Pestisida Bacillus subtilis bekerja secara sistemik. Ia menghambat pertumbuhan patogen dengan masuk melalui sistem metabolisme tanaman lalu pelan-pelan mencegah patogen berkembang biak. 'Cara kerjanya mirip antibiotik, dosisnya kecil, tapi dilakukan terus-menerus,' kata perempuan 59 tahun itu.

Dalam metabolisme tanaman, biopestisida itu menghambat perkembangbiakan bakteri atau cendawan patogen. Akibatnya, patogen tidak bisa memperbanyak diri sehingga penyakit yang ditimbulkan pun bisa dihambat. Temuan biopestisida itu jelas kabar menggembirakan bagi para pekebun sayuran. Maklum, selama ini pekebun mengandalkan pestisida kimiawi yang mengancam kesehatan konsumen dan memicu resurjensi hama.

Pekebun bawang merah, umpamanya, kerap waswas akibat serangan layu fusarium. Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum itu terbukti dapat diatasi dengan merendam benih bawang merah dalam 0,1% larutan Bacillus subtilis selama 30 menit. Hasilnya bawang merah bebas serangan fusarium. Untuk perawatan berikutnya, cukup semprotkan pestisida alami itu dengan dosis sama, seminggu sekali.

Produksi tinggi

Hasil penelitian Euis Suryaningsih membuktikan, 'Beberapa penyakit akibat cendawan patogen bisa diatasi,' katanya. Itu juga dibuktikan pada tanaman sayuran lain seperti bawang merah, cabai, pecai, dan seledri. Hasil penggunaan pestisida Bacillus subtilis sangat terlihat mencolok. Yang menggembirakan, penggunaan Bacillus subtilis ternyata meningkatkan produksi. Dalam uji coba penanaman bawang merah di Rancaekek, Bandung, Euis menuai 300 kg umbi lapis dari lahan 1.000 m2.

Itu berarti 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan tanaman yang tidak disemprot bakteri. Menurut Clarence L Baugh, makhluk berukuran 4 mikron itu mengandung fitohormon seperti auksin, sitokinin, etilen, giberelin, dan asam absisat yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman. Selain itu, ia juga memasok nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, kalsium, dan magnesium yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Bahkan bakteri mampu melarutkan mangan pada MnO2 menjadi Mn+2. Mangan dalam bentuk kation itu sudah siap diserap oleh tanaman dan merangsang pertumbuhan tanaman.

Peran ganda pestisida sekaligus pupuk itu bukan hanya monopoli bakteri Bacillus subtilis. Cendawan Trichoderma lactae mampu menghambat pertumbuhan patogen dalam tanah seperti Pseudomonas solanacearum penyebab penyakit layu pada kentang dan Rhizoctonia solani penyebab busuk akar pada kentang. Jika Bacillus subtilis tersebar di mana-mana, trichoderma hanya ditemukan dalam tanah. Ia juga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan memaksimalkan kerja mikroba dalam rhizosfer tanah-bagian di sekitar akar tanaman.

Menurut Dr Tualar Simarmata, ahli mikrobiologi tanah Universitas Padjadjaran, penggunaan bakteri dan cendawan sebagai biopestisida harus dilakukan secara hati-hati. 'Salah-salah bisa jadi senjata makan tuan,' kata Tualar. Maksudnya, niat hati ingin menjadikan bakteri dan cendawan menjadi senjata alami, tapi karena tidak terkontrol malah menyebabkan penyakit. Menurut Tualar pada prinsipnya setiap mikroba dapat menjadi patogen. 'Tidak ada yang menjamin bakteri atau cendawan itu selamanya baik,' kata doktor alumnus Universitas Liebig, Jerman, itu.

Penggunaan agen hayati juga tidak bisa disamakan dengan pestisida kimia. Pada pestisida kimia konsentrasi sudah teruji. Sedangkan penggunaan agen hayati masih mengandalkan hukum keseimbangan alam. Hasilnya pun bervariasi. 'Kondisi lingkungan tidak ada yang sama, maka efektivitasnya pun tidak akan pernah sama,' ujar Tualar. Itulah ciri khas penggunaan agen hayati sebagai musuh alami patogen.

Selain itu, dalam penggunaannya, agen hayati harus dipastikan hidup saat inokulasi dan mampu memperbanyak diri ketika diaplikasikan pada tanaman. 'Kalau tidak bisa hidup kan artinya sia-sia saja. Jangankan untuk mengendalikan penyakit, hidup saja susah,' katanya. (source : Lani Marliani/Peliput: Argohartono Arie Raharjo untuk Trubus-Online.com)

Pesona Supernova Jogjakarta: Tongkol Dihargai Rp. 2M

Tanaman itu menjulang setinggi 2 meter. Panjang daunnya 120-130cm dan lebar 90 cm. Susunan daunnya bagus, kompak, dan melambai, kian memperindah penampilannya. Dia adalah anthurium supernova kebanggaan wong Jogjakarta yang tongkolnya saja dihargai Rp 2 M.

Demam anthurium merajalela di Tanah Air. Harganya pun menjulang tinggi menyamai harga rumah penyanyi dangdut ternama, Inul Daratista, di perumahan Pondok Indah Jakarta Selatan, yang mencapai Rp 2 M.

Fenomena ini tentu cukup menarik bagi industri tanaman hias, mulai dari penghobi, kolektor, dan tentunya penjual. Padahal dulunya anthurium merupakan tanaman yang tumbuh di hutan-hutan tropis yang teduh. Namun karena kemolekan daunnya, si raja daun inipun beralih jadi hiasan yang indah di rumah. Bahkan dari beberapa jenis anthurium, seperti jenmanii atau supernova dipastikan sebagai jenis anthurium yang jarang dan langka, sehingga dengan memilikinya, jadi kebanggaan tersendiri.

Wajar kalau harga anthurium menjulang tinggi, sehingga pasar banyak yang membidik tanaman daun ini. Dengan syarat sudah memiliki indukan yang akan dijual dalam bentuk biji maupun bibit, pebisnis tanaman hias dipastikan bisa menjual koleksi langkanya dengan harga tinggi.

Makin hebat indukan yang Anda miliki, maka dipastikan harga jual anakan akan jauh lebih mahal, seperti Yoe Kok Siong dari Kaliurang Garden Centre Jogjakarta, yang memiliki indukan supernova berusia 15 tahun ini. Indukan yang khusus didatangkan dari Amerika Latin ini memang diharapkan bisa memberikan turunan berkualitas untuk penghobi anthurium.


Yo, sapaan akrab Yoe Kok Siong, mengatakan saat ini memang supernova merupakan jenis anthurium termahal yang pernah ia miliki, karena jenis ini termasuk jarang dan langka ditemukan di Tanah Air. Untuk memilikinya saja, ia harus mendatangkannya dari dataran Eropa.

Supernova miliknya itu baru dalam tahap pembuahan dan belum memiliki turunan sejak datang pada satu tahun yang lalu. Memang dirinnya fokus untuk program penyesuaian iklim dulu sebelum dilakukan penyerbukan untuk bibit, sebab bila dipaksakan bisa saia keluar biji, namun kualitasnya bisa saja - tidak bagus.

Beda bila sudah tumbuh dengan baik. otomatis biji yang dihasilkan juga berkualitas, imbuh Yo.

Supernova milik Yo memang tumbuh sehat. Itu dilihat dari kondisi daun yang tumbuh segar, serta warna hijau yang cerah. Tinggi tanaman sendiri cukup mengagumkan. ia bisa tumbuh lebih dari 2 meter. Selain itu. lebar daun bisa mencapai 90 cm, dengan tulang daun yang sangat tegas menonjol.
Batang daunnya sendiri mempunyai ukuran yang besar, sehingga secara keseluruhan terlihat gagah.

Wajar bila tanaman ini konon menjadi kegemaran para raja, karena menunjukkan kesan jantan dan gagah. Supernova sendiri saat ini menjadi satu jenis jenmanii yang sedang di-'uber-uber' kolektor dan juga pebisnis, dengan harapan bisa menjualnya kembali. Apalagi jenis ini masih sangat langka di pasaran dan tentunya akan jadi koleks ekslusif apabila bisa memilikinya.

Menurut Yo, demam supernova seperti saat ini sempat dialami juga oleh jenmani cobra yang sekarang pun masih mempunyai nilai cukup tinggi. Namun sebagai ilustrasi, ternyata harga jual supernova bisa mencapai empat kali lipat dari harga cobra.

Meski biji supernova miliknya baru bisa dipasarkan tiga bulan ke depan, namun dari sekarang diakui sudah ada peminat yang memesannya. Harga jual yang diberikan untuk setiap biji pada tongkol supernova tak tanggung-tanggung, yaitu Rp 1 juta. Harga yang diberikan tentu cukup mengejutkan, namun di tangan kolektor, harga seperti itu bukan lagi jadi masalah. Harga per-biji Rp 1 juta itu, wajar bila ada salah seorang kolektor yang menawar satu tongkol supernova Rp 100 juta, Yo tidak memberikannya. Pasalnya, dari satu tongkol bisa menghasilkan 2000-3000 biji. Jadi, rupiah yang dihasilkan jelas lebih banyak bila menjual secara eceran. Bahkan kalau dikalkulasi bisa mencapai Rp 2 M per-tongkolnya.

Untuk Jenis jenmanii, terutama supernova bisa mengeluarkan tongkol untuk ber-reproduksi rata-rata usia yang dimiliki antara 7-8 tahun. Jadi untuk melakukan investasi, supernova cukup lama, sehingga akan lebih mudah untuk mendatangkan indukan dari luar negeri. Namun biaya yang dikeluarkan dipastikan cukup besar dan membutuhkan kejelian untuk melihat kualitas tanaman.

Masuk dalam dunia tanaman hias sejak 10 tahun lalu, membuat Yo cukup paham pergeseran tren tanaman hias, seperti mendatangkan supernova satu tahun yang lalu ini. Namun bagi penghobi yang ingin mendapatkan bibit dari supernova, Yoe Kok Siong harus menunggu tiga bulan lagi, sebab saat ini tongkol sedang dalam pertumbuhan biji (wo2k)

Sumber: www.kebonkembang.com

Don't Be Wrong in Choosing Ketakung

Sadness was upon Sofjan Moeis' face, hobbyist of nepenthes in Pondokindah, South Jakarta. His collection, 3 pots of kantong semar-term for nepenthes in Java, dried up and died. Due to curiosity, the father of 4 children looked for information everywhere. He even surfed through the internet. After he had investigated, the alumnus of a hotel academy in Munich, Germany, realized that he had wrongly chosen the variety of nepenthes. Sofjan bought N. ventricosa which is a highland species. Obviously, ketakung-term for nepenthes in Kalimantan-refuses to live in Jakarta.

The same case is experienced by other hobbyists. Meilfin Roza's first kantong beruk which he got from Gunung Singgalang in West Sumatera only lived for 2 months. Fortunately, Meilfin is not wary to treat kantong semar. After several times trying, he finally arrived at a conclusion, 'If we live on the lowland, we should be better not try to keep highland nepenthes. The plant might live, but it will refuse to bear pitchers, and so the other way around,' said the man who collects Rp12-million N. bicalcarata of 2 m in height.

In general, kantong semar-term for nepenthes in Java-is categorized into 3; highland, midland, and lowland. The former grows at the height of 700 m above sea level. For examples are N. adrianii, N. adnata, and N. lowii. The midland variety which grows on the elevation between 300-700 m above sea level are N. papuana and N. pervillei. While N. thorelii and N. ampularia are the lowland variety which grow at 0-300 m above sea level.

Temperature

The habitat of ketakung which grows in the mountain is obviously different from the one which lives at the sea side. The temperature and humidity differences are like heaven and earth. The lowland and midland Nepenthes require temperature around 27-35°C in the afternoon and 21-27°C at night. On the other hand, the highland variety needs 21-29ºC in the afternoon and 12-18ºC at night. The plants which prefer heat and low humidity will not survive to be cultivated in the mountain. 'Even if it is alive, normally the pitchers will not come out or they will shrink,' said Ir Uhan Suhanta, a hobbyist of nepenthes in South Bandung. Just the other way, keeping highland ketakung in the lowland will be very difficult, unless by special treatments.

For example is N. gymnamphora from Gunung Slamet, Purwokerto, up on 3.432 m above sea level. It is included in the fussiest kantong semar variety. 'Its adaptability (on lowland, red) is not good enough,' said Adrian Yusuf Wartono, the chairman of Divisi Nepenthes Indonesia (the Indonesia Nepenthes Division) in Malang, East Java. Even if it is alive, the pitchers will not reach their maximum size. Therefore, for beginner hobbyist it is not suggested to treat N. gymnamphora unless they live over 500 m above the sea level. Other requirement is the air humidity should be more than 80%. Less than that, the pitchers will not be formed, the leaves will roll and dried up.

If you insist in keeping a mountain ketakung on lowland, you are suggested to change the environment. Malesiana Tropical, in Kuching, Serawak, treats N. alata which grows on 400-2.400 m above sea level in elevation in a coolhouse room. The temperature in that 1 HP air-conditioned room is 26°C in the afternoon.

Obviously it is easier to keep lowland nepenthes. N. campanulata, N. danseri, N. masoalensis, and N. rowanae are the example. Other option is by choosing nepenthes which has a high adaptability, such as N. hirsute and N. veitchi.

In Malesiana Tropical, N. sumaterana which comes from an elevation of 0-1.000 m above sea level is put in a common plastichouse. The plastichouse only needs to be furnished with shading net of 55% shade and plastic roof to prevent rain from falling into.

Variety

Out of 103 species of nepenthes listed, 61 varieties grow on highland. While the rest live on lowland and midland up to highland. The majority of kantong semar in Sumatera, Sabah, and Sarawak grow on mountain ranges. While in Kalimantan there are a lot more adaptive nepentheses that grow on midland to highland.

The above categorization for periuk monyet is based on the spreading in the world. However, it is not valid for nepenthes which have been cultivated. For example is N. anamensis. It used to be categorized as highland species by Borneo Exotics-a nursery in Srilanka. Now N. anamensis is crowned as lowland variety. The conversion of categorization is done due to a reason that ketakung can grow well on the lowland after being cultivated.

Now then, it is time for you to choose the right nepenthes, so that you will not experience what happened to Sofjan. (Rosy Nur Apriyanti/ Reporter: Lastioro Anmi Tambunan for Trubus-Online.com)

PERBEDAAN WARNA JEMANI GOLDEN

Spesies jemani golden di nusantara kita masih tergolong langka/sulit untuk dijumpai di pasaran. seperti layaknya jemani kobra, jemani jaipong, jemani mangkok dan spesies jemani langka lainnya. hal ini diakibatkan dari pengembangbiakan dari jenis tanaman anthurium khususnya kerabat jemani mengalami kendala bagaimana agar keturunan mereka sama persis dengan indukannya? padahal kita tahu pengembangbiakan melalui generatif dalam hal ini dengan penyerbukan bunga anthurium yang nantinya akan menghasilkan biji sebagai sarana penerus generasi, akan menghasilkan keturunan yang berbeda. apalagi indukan tadi merupakan hasil perkawinan silang dari jenis yang lain. menurut teori bahwa keturunan melalui biji akan menghasilkan bibitan yang sama dengan indukan hanya 3/4 dari keseluruhan. apalagi jika hasil perkawinan silang, pada penyilangan pertama akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1:3:3:1 hal ini menunjukkan bahwa 1 bagian dari 8 bagian merupakan keturunan yang memiliki karakter sama persis dengan indukan dan 1 bagian yang lain dari karakter indukan yang lain.6 bagian sisanya akan memiliki karakter diantara keduanya (perpaduan 2 karakter yang dibawa dari kedua indukan)

saat ini saya akan menunjukkan perbedaan warna dari jemani golden dengan jemani lain yang berwarna biasa.



warna cincin dari stang tangkai jemani golden cenderung berwarna kuning





warna cincin dari stang tangkai jemani giant cenderung berwarna putih.

source http://anthurium-house.blogspot.com/
spesies jemani golden di nusantara kita masih tergolong langka/sulit untuk dijumpai di pasaran. seperti layaknya jemani kobra, jemani jaipong, jemani mangkok dan spesies jemani langka lainnya. hal ini diakibatkan dari pengembangbiakan dari jenis tanaman anthurium khususnya kerabat jemani mengalami kendala bagaimana agar keturunan mereka sama persis dengan indukannya?

Baca selengkapnya di http://anthurium-house.blogspot.com/2007/11/perbedaan-warna-jemani-golden.html#links

Selasa, 19 Februari 2008

Apa Itu Pertanian Organik?

Seringkali kita mendengar keluhan petani Indonesia bahwa hasil panen turun, dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilannya. Ada apa sebenarnya? Bukankah Indonesia merupakan Negara agraris?

Ketergantungan pada penggunaan pupuk dan obat-obat kimia yang semakin mahal yang menyebabkan biaya produksi semakin meningkat.

Pada awalnya memang sangat menggembirakan, penggunaan obat-obat kimia menjadikan hasil produksi meningkat secara drastis. Akan tetapi lama-kelamaan zat kimia inilah yang merusak struktur tanah dan tidak ada lagi mikroorganisme yang hidup di dalamnya yang sebenarnya sangat membantu mempertahankan keseimbangan struktur tanah secara alami.

Lalu, Solusinya? Back To Organic adalah jawabannya. Pertanian Organik adalah suatu sistem pertanian yang menyelaraskan antara alam dan pengolahan yang berkesinambungan. Salah satunya dengan tidak menggunakan pestisida dan obat-obat kimia lainnya.

Pertanian Organik tidak memerlukan pupuk sintesis karena petani menggunakan pupuk kompos hasil olahan kotoran hewan dan sampah dedaunan.

Dengan kata lain pertanian organik merupakan system manajemen produksi terpadu yang menghidari penggunaan pupuk buatan, pestisida, dan bahan-bahan sintesis lainnya